Kamis, 02 Mei 2013

Melihat Kiprah Komunitas Card to Post

Caption: Putri Fitria bersama kartu pos dan cokelat pos di Perpustakaan Kota Jogja kemarin (27/4)

Saling Bertukar Kartu Pos dengan Card to Post

Dari Kumpulkan 1000 Kartu Pos Untuk Presiden Sampai Kirim – Kiriman Cokelat Pos

Berkirim kartu pos di tengah kilatnya teknologi informasi tentu ibarat melihat kura – kura berlomba dengan kancil. Tapi, sebagian orang tidak memuja kecepatan. Bagi komunitas Card to Post, berkirim karya – karya tangan mereka dalam bentuk kartu pos ke orang lain seperti mendapatkan kepuasan yang berbeda.

Heditia Damanik, Jogja

Dengan perlahan, Putri Fitria mengeluarkan belasan kartu pos dari tas vintage berwarna coklat miliknya. Satu persatu kartu warna warni itu diletakkannya di atas meja beranda perpustakaan kota Jogja. Belasan kartu tersebut tampak begitu cantik dan menggemaskan. Ada yang berbentuk pop-up, foto jepretan sendiri bergambar kucing, kreasi tempelan, hingga kartu pos beraksen sulaman. Di atas setiap kartu pos tertulis nama Putri di kolom penerima. “Ini baru sebagian yang aku dapatkan. Masih banyak yang lain di rumah,”ujar salah satu pendiri komunitas Card to Post ini kepada Radar Jogja kemarin siang (27/4).

Card to Post sendiri merupakan kumpulan para penggila kartu pos yang didirikan oleh Putri bersama Dhea dan Risky, dua orang teman kelasnya di Ruang Rupa Jakarta. Ide ini berawal dari kegemaran Risky dalam memotret. Karena tak ingin karya fotonya usang di dalam file komputer, Risky pun mencetaknya dalam bentuk kartu pos dan mengirimkan ke teman – temannya. Pada November 2011, mereka pun memutuskan untuk mengajak lebih banyak orang saling berkirim kartu pos. Bagi Putri, kartu pos seperti bentuk passion dalam berkomunikasi. “Ya sensasinya beda aja dibanding lewat email atau sms. Kayaknya niat banget ya,”jelas mahasiswa Magister Antropologi UGM itu lantas tertawa.

Walau tidak saling kenal, ratusan anggota Card to Post saling berkirim kartu pos yang bertuliskan pesan singkat. Anggotanya tidak hanya di Indonesia, tapi juga ada yang di luar negeri seperti Jerman, Belanda, dan Malaysia. Setiap kartu pos yang mereka terima akan diposting di website kartu pos di www.cardtopost.com. “Rata – rata pada buat sendiri. Karena kita kampanyekan seperti itu. Kalau beli kan edisinya relatif terbatas. Jenisnya juga paling cuma gambar pemandangan yang udah banyak didatangi,”terang gadis blasteran Aceh-Melayu itu.

Tak hanya berkumpul di dunia nyata, Card to Post yang terpusat di tiga kota yakni Jakarta, Bandung, dan Jogja ini pun kerap menggelar kegiatan. Diantaranya adalah 1000 kartu pos untuk presiden sebagai bentuk penjaringan aspirasi. Jika banyak orang menyampaikan aspirasi dengan demostrasi, Card to Post menggunakan cara mereka sendiri. “Mengirim kartu pos memang gak terlalu capek dibanding demostrasi kalau hasilnya sama. Yakni sama – sama gak didengar,”candanya.

Sebanyak 1000 kartu pos buatan sendiri terkumpul tepat dihari ulang tahun Susilo Bambang Yudhoyono pada 9 September 2012. Isinya relatif beragam mulai dari support, kritik, hingga canda. Saat itu, semua kartu pos dipamerkan secara online melalui Twitter dan website. Yang ikut berpatisipasi pun beragam mulai dari seniman dan selebritis di Jakarta, hingga komunitas waria dan komuntas difable di Jogjakarta. Lalu pada 9 September 2013, akan dipamekan secara offline disejumlah tempat. ‘Setelahnya baru dikirim ke Presiden,’ kata dia.

Dalam waktu dekat, Card to Post juga sedang mengajak masyarakat untuk membuat Kartu Pos Untuk Kota sebagai bagian dari aksi Kota Untuk Manusia. Sebagai prolog temanya adalah trotoar, sebab saat ini trotoar hampir di semua kota relatif tidak manusiawi. Jadi kartu pos bisa berisi tentang trotoar di kota masing – masing. Semua karya yang terkumpul akan dipamerkan di Benteng Vrendeburg pada tanggal 24 – 27 Mei 2013. “Kalau mau ikut partisipasi bisa dikirim ke Card to Post PO BOX 1001 Jogjakarta 55000,”ujarnya.

Walau terlihat simpel, ternyata untuk menjalankan komunitas Card to Post tetap butuh logistik. Menurut Putri selama ini mereka selalu merogoh kocek sendiri untuk membiayai sejumlah event yang digelar di berbagai kota dan membayar domain website. Karenanya itu Card to Post juga menyediakan sejumlah jasa. Diantaranya cetak kartu pos seharga Rp 25 ribu – Rp 30 ribu untuk delapan kartu. “Desainnya dari yang pesan langsung. Kita tinggal cetak. Yang ini malah lebih laris,”jelas dara asal Medan itu.

Usaha unik lainnya adalah penjualan kartu pos yang ada cokelat didalamnya. Inovasi ini dinamai Cokelat Pos. Bungkusnya adalah kartu pos lengkap dengan nama pengirim dan nama penerima serta pesan yang ingin disampaikan. Idenya berawal saat Putri jalan – jalan ke Swiss dia melihat hal yang sama bernama Chocolate Post. Cokelat pos sendiri dibandrol Rp 65 ribu bila dikirim dengan perangko. Cokelat Pos sering dipesan utnuk hadiah ulang tahun. Tapi yang paling banyak untuk kado valentine. “Kalau cokelatnya dimakan, kartu pos lengkap dengan perangko dan cap kantor posnya tetap bisa disimpan,”ujar penulis dan peneliti ini.

Ke depan, Putri tetap ingin tetap mengirim kartu pos bersama Card to Post. Walaupun mengirim sms atau BBM lebih gampang. “Ya senang aja sih,”pungkasnya sambil tersenyum.

Glad to be back

Hai temans. Lama sekali blog ini vakum. Rencananya saya ingin memposting beberapa tulisan berita saya di sini. Soalnya sayang juga sih kalau blog ini gak jalan. Jadi I will post serious thing such as morning news paper here. :)